IHSG memasuki pekan pertama Oktober dalam posisi rapuh setelah turun 3,28% sepekan dan ditutup melemah ke 6.009, dengan arus jual asing yang masih menjadi beban utama bagi pasar saham Indonesia.
IHSG Turun 3,28% Saat Asing Masih Jual Bersih
Bagi investor, yang paling penting bukan sekadar pelemahan indeks, melainkan kombinasi antara keluarnya dana asing, rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS, dan ekspektasi suku bunga global yang masih tinggi. Kondisi itu membuat setiap kenaikan di pasar lokal cenderung bersifat teknikal, bukan awal dari tren naik yang meyakinkan.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan kapitalisasi pasar terkikis 2,55% menjadi Rp10.627 triliun pada pekan lalu, sementara investor asing mencatat jual bersih Rp1,27 triliun pada perdagangan Jumat dan Rp82,55 triliun sepanjang 2026. Volume harian memang melonjak 72,51%, tetapi kenaikan itu lebih mencerminkan rotasi dan tekanan jual ketimbang peningkatan keyakinan. Frekuensi transaksi justru turun, menandakan aktivitas yang lebih terkonsentrasi.
Secara pasar, ini berarti saham-saham berkapitalisasi besar tetap sensitif terhadap arah imbal hasil US Treasury dan penguatan dolar AS. Analis menilai rilis data nonfarm payrolls Amerika Serikat akan menjadi katalis terdekat karena data tenaga kerja yang solid berpotensi menghidupkan kembali kekhawatiran bahwa Federal Reserve masih hawkish lebih lama. Jika itu terjadi, yield obligasi pemerintah AS bisa naik lagi, dolar menguat, dan tekanan pada aset berisiko emerging markets termasuk Indonesia kembali membesar.
Dalam kerangka itu, proyeksi teknikal IHSG masih terbatas di rentang 5.839-6.212. Pandangan ini sejalan dengan bacaan yang lebih luas bahwa pasar Indonesia butuh bukan hanya rebound kuartalan, tetapi perubahan arus dana asing dan perbaikan kepercayaan terhadap aset domestik. Selama itu belum terjadi, reli cenderung mudah dijual.
Meski begitu, di tengah pasar yang defensif, beberapa saham dinilai masih menawarkan peluang trading jangka pendek. Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas merekomendasikan Gudang Garam, Indosat, dan Trimegah Bangun Persada, dengan target masing-masing di 18.250, 2.480, dan 905. Secara tematik, ketiganya mewakili saham yang bisa diuntungkan dari technical rebound, bukan dari perubahan besar pada fondasi makro.
Hendra Wardana dari Republik Investor juga melihat peluang di Antam, Timah, dan Surya Semesta Internusa, dengan target 3.350, 4.900, dan 1.800. Argumennya lebih luas: saham berbasis komoditas dan emiten domestik dapat ikut menguat jika konsumsi membaik, belanja pemerintah pulih, dan laporan kinerja kuartal III memberi kejutan positif. Namun ia menekankan bahwa katalis itu masih harus bersaing dengan yield AS yang tinggi, dolar yang kuat, rupiah yang melemah, serta risiko geopolitik dan harga minyak.
Untuk investor, narasinya jelas: pasar Indonesia saat ini lebih cocok dibaca sebagai arena selektif ketimbang pasar beta tinggi. Saham-saham tertentu masih bisa diperdagangkan untuk profit jangka pendek, tetapi untuk membangun tren naik yang lebih tahan lama, pasar membutuhkan sinyal yang jauh lebih kuat dari sisi dolar, suku bunga global, dan aliran modal asing.
| Entity | Gains | Losses |
|---|---|---|
| Trader jangka pendek | ▲Peluang technical rebound | ▼Risiko koreksi lanjutan |
| Saham rekomendasi GGRM, ISAT, NCKL, ANTM, TINS, SSIA | ▲Potensi kenaikan harian | ▼Tertahan sentimen makro |
| Investor asing yang jual bersih | ▲Fleksibilitas rotasi aset global | ▼Eksposur ke rupiah dan IHSG |
| IHSG broad market | ▲Dukungan selektif dari katalis domestik | ▼Tekanan dari yield AS, dolar, dan outflow |
